Expositions on the Psalms - Psalm 90 (Enarratio 89)
- Agustinus dari Hippo
- Christian Literature Publishing Co.
- Buffalo, NY
- ca. 418 M
Agustinus membaca Mazmur 90 sebagai doa Musa, dengan menafsirkan Musa sebagai pelayan Perjanjian Lama sekaligus nabi Perjanjian Baru. Karena itu, rujukan mazmur ini pada generasi-generasi menunjuk pada kesatuan kedua perjanjian, dengan kesaksian Musa mengarahkan pembaca kepada Kristus. Berhadapan dengan ciptaan dan kehidupan manusia yang berubah-ubah, Agustinus menampilkan Allah yang “Ada” secara kekal dan tak berubah sebagai tempat perlindungan yang aman bagi orang beriman. Permohonan pertolongan Allah selaras dengan Doa Bapa Kami: di tengah pencobaan, manusia memerlukan rahmat untuk mengarahkan hati pada hal-hal kekal. Perbandingan seribu tahun dengan sehari atau satu giliran jaga menolak perhitungan kronologi kenabian dan mengingatkan kefanaan kehidupan duniawi. Kehidupan manusia adalah rumput yang layu, ditandai dosa, penderitaan, ketakutan akan kematian, serta penilikan ilahi. Bahkan dukacita Kristus sebelum wafat memberikan jalan bagi kelemahan manusia fana menuju ketabahan yang setia dan kemartiran. Tujuh puluh serta delapan puluh tahun dalam mazmur mendapat penafsiran simbolis yang berkaitan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; jerih payah serta dukacita menjadi disiplin yang melaluinya belas kasih Allah menyempurnakan mereka yang lemah. Kemakmuran yang tampak dapat menyembunyikan murka ilahi, sedangkan hukuman yang mendidik dapat menjaga pendosa dari penghukuman. “Tangan kanan” Allah adalah Kristus, yang pewahyuan-Nya mengajar umat beriman untuk mencari ganjaran kekal, bukan sementara. Terikat oleh “rantai emas” kebijaksanaan, umat beriman menanggung penganiayaan dan berseru memohon datangnya pagi ketika mereka akan melihat Allah. Perbuatan baik mereka menjadi benar apabila diarahkan oleh kasih, yang merupakan pemenuhan hukum Taurat, dan Kristus menyingkap harapan-harapan kekal yang tersembunyi dalam perkataan Musa.
Baca selengkapnya